» » Paus Benedictus XVI: Penantang Sekularisme yang Kelelahan




Paus Benedictus XVI selalu mengatakan dirinya tak ingin menjadi Paus, seorang kutubuku pemalu yang lebih suka menyendiri di kawasan Alpen ketimbang berada dalam sorotan publik dan kemegahan Vatikan.

Namun setelah menjabat sebagai Paus, dia tak pernah berhenti memikirkan kemajuan Gereja Katolik dan memimpinnya ke arah yang dia anggap benar—keteguhan inilah yang tercermin dalam pernyataan pengunduran dirinya Senin 11 Februari.

Meskipun keputusannya mengejutkan dunia, Benedictus telah menggariskan kebijakannya sejak bertahun-tahun lalu, ketika dia menegaskan bahwa seorang Paus wajib mengundurkan diri jika mereka menjadi terlalu tua atau terlalu ringkih untuk melanjutkan tugas.

Karenanya, bagi banyak orang pula, keputusannya itu justru menegaskan komitmen dan dedikasi seumur hidup yang dipersembahkannya bagi gereja, menunjukkan cintanya bagi lembaga tersebut, dan keberaniannya mengakui bahwa Gereja Katolik memerlukan “darah baru” untuk menghadapi masa depan.

Ruhaniwan asal Jerman, yang menyatakan misinya adalah membangkitkan kembali nilai-nilai Kristiani di tengah sekularisme Eropa ini, tampak makin melemah kesehatannya di tengah deraan berita skandal penganiayaan seksual yang melanda gereja.

Belakangan, Benedictus juga harus menanggung beban pengkhianatan salah seorang pembantu dekatnya: pengurus rumahtangganya sendiri divonis bersalah oleh pengadilan Vatikan karena mencuri dokumen pribadi Sang Paus dan menyerahkannya kepada wartawan—sebuah pelanggaran keamanan paling menyedihkan dalam sejarah kepausan modern.

Di tengah semua itu, Paus Benedictus XVI tak henti mewujudkan visinya, yakni menghidupkan kembali iman di dunia yang, sebagaimana sering dia sebutkan, menganggap segalanya bisa berjalan tanpa Tuhan.

"Di tengah berbagai persoalan dunia yang demikian kompleks sekarang ini, sikap lupa-Tuhan demikian mewabah,” demikian disampaikannya di hadapan satu juta kaum muda yang berkumpul dalam acara World Youth Day di Koln, Jerman, pada 2005. "Seolah segalanya bisa tetap sama tanpa-Nya.”

Dengan sejumlah sikap dan tindakan yang kadang kontroversial, Benedictus mencoba mengingatkan masyarakat Eropa tentang  warisan Kristiani mereka, dan mengarahkan Gereja Katolik ke jalur konservatif yang mengabaikan kaum progresif—dan mengagetkan bahkan kelompok konservatif.

Kecaman Vatikan terhadap sejumlah biarawati Amerika—mereka dipersalahkan melenceng dari doktrin gereja dalam mengejar persamaan hak alih-alih menekankan ajaran dan sikap gereja terhadap aborsi dan homoseksualitas—meninggalkan kepahitan tersendiri bagi sebagian penganut Katolik Amerika.

Di pihak lain, kaum konservatif mengelu-elukan kebijakannya untuk kembali ke era gereja pra-Vatikan II, dan keteguhannya memegang tradisi, meskipun hal itu harus dibayar dengan popularitas gereja di kalangan liberal.

Sebagaimana disampaikannya pada 1996 dalam buku "Salt of the Earth," gereja yang meski kecil namun murni lebih diperlukan dunia.

"Mungkin kita menghadapi era baru dan berbeda dalam sejarah gereja, di mana Kristianitas hanya akan dipandang sebagai benih mungil, dengan keberadaannya yang sedikit, seolah tidak penting, namun hidup dan teguh berjuang melawan kejahatan dan membawa kebaikan bagi dunia—semoga Tuhan bersama kita,” ucapnya ketika itu. [PN/mizanmag/huffingtonpost.com]

About Adi Nu

Hi there! I am Hung Duy and I am a true enthusiast in the areas of SEO and web design. In my personal life I spend time on photography, mountain climbing, snorkeling and dirt bike riding.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply

Sitemap