Pemecatan Fahri Hamzah bukan Civil War dalam PKS

Setelah proses yang berjalan sekitar tujuh bulan, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) akhirnya memecat Fahri Hamzah dari semua jenjang keanggotaan partai. Publik pun terkejut, sebagian bersorak mengingat gaya politik Fahri yang kerap kontroversial. Ada pula yang membuat dugaan-dugaan, apakah pemecatan Fahri merupakan sebuah Civil War (perang saudara) di dalam PKS?

Situs merdeka.com mengangkat judul “Fahri dipecat, bukti faksi sejahtera di PKS tergusur.” Sebelumnya situs detik.com juga mengulas proses peradilan internal terhadap Fahri dengan judul “Fahri Hamzah Simbol Faksi Kesejahteraan yang Dilawan Faksi Keadilan.”

Namun sejatinya pemecatan Fahri bukanlah Civil War dalam PKS. Tokoh-tokoh PKS yang dianggap mewakili Faksi Kesejahteraan, seperti Hilmi Aminuddin dan Anis Matta, tidak pernah secara terbuka memberikan dukungan kepada Fahri. Bahkan Fahri hanya seorang diri saat melakukan konferensi pers pada 4 April 2016 terkait dengan pemecatan dirinya.

Namun Fahri mampu menggiring sebagian kader PKS sejak awal proses pemecatannya, sehingga mereka menganggap bahwa peristiwa tersebut merupakan bagian dari Civil War antara Faksi Kesejahteraan dengan Faksi Keadilan. Anggapan yang menambah semangat Fahri untuk memperpanjang konfliknya dengan PKS.

Fahri sendiri telah melangkah lebih jauh dengan menuntut PKS untuk membayar ganti rugi materiil dan imateriil senilai lebih dari Rp 500 miliar. Tuntutan ini dibacakan pihak Fahri saat membacakan permohonan gugatan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, hari ini (Senin, 9/5/2016).

 

 

Facebook Comments